Sabtu, 05 Januari 2013

Sejarah Sarung



Sarung merupakan sepotong kain lebar yang dijahit pada kedua ujungnya sehingga berbentuk seperti pipa/tabung. Ini adalah arti dasar dari sarung yang berlaku di Indonesia atau tempat-tempat sekawasan. Dalam pengertian busana internasional, sarung (sarong) berarti sepotong kain lebar yang pemakaiannya dibebatkan pada pinggang untuk menutup bagian bawah tubuh (pinggang ke bawah).

Kain sarung dibuat dari bermacam-macam bahan: katun, poliester, atau sutera. Penggunaan sarung sangat luas, untuk santai di rumah hingga pada penggunaan resmi seperti ibadah atau upacara perkawinan. Pada umumnya penggunaan kain sarung pada acara resmi terkait sebagai pelengkap baju daerah tertentu.

Menurut catatan sejarah, sarung berasal dari Yaman. Di negeri itu sarung biasa disebut futah. Sarung juga dikenal dengan nama izaar, wazaar atau ma'awis.Masyarakat di negara Oman menyebut sarung dengan nama wizaar. Orang Arab Saudi mengenalnya dengan nama izaar. Penggunaan sarung telah meluas, tak hanya di Semenanjung Arab, namun juga mencapai Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika dan Eropa. Sarung pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke 14, dibawa oleh para saudagar Arab dan Gujarat. Dalam perkembangan berikutnya, sarung di Indonesia identik dengan kebudayaan Islam.
Percampuran budaya sepanjang pesisir Indonesia membuat corak sarung lebih bervariasi. Desain Islam, Jawa, China dan Indo-Eropa melebur. Sehingga, sarung pesisir mempunyai warna, motif, dan pola yang lebih bebas.

Pada zaman penjajahan Belanda, sarung identik dengan perjuangan melawan budaya barat yang dibawa para penjajah. Kemudian, sarung menjadi satu di antara simbol dan nilai-nilai budaya Indonesia. Sarung biasanya dipakai untuk acara keagamaan, adat dan pernikahan. Dalam acara ini, baik pria dan wanita biasa memakai busana tradisional terbaik dengan sarung yang penuh warna dan kemegahan.

Motif kain sarung yang umum adalah garis-garis yang saling melintang. Namun demikian, sarung untuk pakaian daerah dapat pula dibuat dari bahan tenun ikat, songket, serta tapis.
Sarung pada umumnya bermotif geometris atau garis-garis yang saling melintang, baik vertikal maupun horizontal. Sementara, sarung untuk pakaian daerah memiliki motif yang lebih beraneka ragam, misal batik. Motif sarung batik misalnya, memiliki motif bunga atau dedaunan, dengan berbagai warna-warna alami. Sementara, Sarung Tapis bermotif alam, flora dan fauna ditenun dengan menggunakan benang emas dan benang perak.
Menurut cerita, bangsa yang mengenakan sarung dianggap bangsa yang lamban dan cenderung malas. Masalahnya, sarung tersebut membuat sang pemakai menjadi sulit bergerak dengan cepat serta tidak bebas. Coba bayangkan, dengan lilitan kain yang membelit dari bawah pusar kita hingga ke mata kaki, apa sanggup kita berlari kencang bila dikejar anjing (gila). Tapi toh, cerita itu belum tentu sepenuhnya benar.
Bicara bebas, bukankah dengan mengenakan sarung juga bisa lebih bebas. Stop. Anda jangan yang berpikir yang bukan-bukan dulu. Bebas di sini berkaitan dengan sifat multifungsi serta kapan menggunakan sarung itu. Sarung dapat digunakan dalam berbagai acara, baik formal dan non formal. Mulai dijadikan pakaian kondangan, akad nikah (tidak selalu), untuk shalat, selimut penahan nyamuk di malam hari, bisa dijadikan tas serbaguna jika keadaan darurat ( ini sering dimanfaatkan oleh para maling konvensional yang juga menjadikan sarung sebagai topeng mereka), dijadikan kamar mandi darurat di kali sewaktu pergi kemping. Bahkan, para jawara di masa lalu juga menjadikan sarung sebagai asesoris sekaligu senjata yang setajam golok.
Nah, bicara lamban para pemakai sarung di Bali punya kiat sendiri yang terbukti jitu. Kain sarung tersebut mereka kenakan seperti mengenakan popok bayi. Bagian bawah sisi belakang sarung mereka angkat ke depan lalu digulung seperti biasa. Alhasil mereka bebas beraktivitas dan tidak lamban. Kalaupun ada yang lamban, itu karena mereka dasarnya malas saja. Bukan karena memakai sarung.
Sementara itu teman-teman di kalangan pesantren pun kerapkali disebut kaum sarungan. Alasannya, mereka biasa mengenakan sarung dalam setiap aktivitasnya. Tentunya, sekarang ini sudah berubah dan tidak semua santri di pesantren mengenakan sarung.Apa memang sarung hanya dikenal dalam budaya Asia saja? Sepertinya memang begitu karena setahu saya sarung tidak dikenal di Eropa. Kecuali sarung kotak-kotak setinggi lutut milik orang-orang Skotlandia yang disebut kilt. Kalau Anda pernah menyaksikan film Brave Heart, di situ Anda bisa melihat Mel Gibson dengan ‘sarung’ Skotlandianya. Beberapa tahun silam, Michael Keadis, vokalis grup Red Hot Chilli Pepper, sewaktu membacakan salah satu nominasi MTV Award dengan cueknya mengenakan kain sejenis sarung berwarna gelap tanpa mengenakan pakaian alias telanjang dada. Padahal di negara kita yang puanas ini, memakai sarung tanpa busana sambil ote-ote adalah hal yang biasa. Apalagi setelah makan siang. Nikmatnya, gak tergantikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar